riset mini
ANALISIS PERSEPSI GURU MATA PELAJARAN FISIKA
MADRASAH ALIYAH TERHADAP KONSEP GAYA
PADA BENDA DIAM DAN BERGERAK
(Studi Kasus Pada Diklat Guru Mata Pelajaran Fisika Tingkat Madrasah Aliyah
Di Balai Diklat Keagamaan Medan Tahun 2008)
Muhammad Halomoan,M.Pd.
ABSTRAC
This study aim to see how result of study deep-study of physics matter at Diklat Guru Mata Pelajaran Fisika Tingkat Madrasah Aliyah by applying study strategy of konstructivisme which its the treatment covering; matter selected based on requirement of participant, not based on Kursil from Pusdiklat Teknis Departemen Agama. Matter required by participant is obtained by the way of executing diagnostic test in the beginning of study. From the angle of study method, applied discourse, queston-answer, and brain storming. Media applied is laptop and infocus to display slide powerpoint is containing interconnected style matter. Research method selected is case study by designing pretest-postest. From answer sheet analysis with focus at wrong participant answer, obtained four problems owned by teacher in style study, that is: paints point of application of style, differentiates style with momentum, differentiates style painting at peripatetic and silent object, paints action and reaction style at law III Newton.
Key words: pretest, test diagnostic, misconception, esenssial matter, and constructivis learning.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Hasil pembelajaran mata pelajaran fisika di Indonesia, selain mengecewakan juga memperihatinkan. Mengecewakan karena proses pembelajarannya cenderung menerapkan metode drill, memperihatinkan karena hasilnya tidak sesuai dengan target nasional. Memang untuk kancah Physics Olympiade siswa-siswa kita sering memperoleh medali perunggu, perak, bahkan emas. Tetapi pencapaian itu tidak menggambarkan kondisi menyeluruh di sekolah-sekolah negeri ini.
Keadaan ini memang bukan berlangsung di negeri kita saja. Laporan Berg (1991:1) misalnya menyebutkan penelitian di negara-negara Barat mengenai retention pengetahuan fisika dengan alumni sekolah menengah juga sangat mengecewakan, seakan-akan banyak lulusan sekolah menengah belum pernah belajar fisika. Bahkan, banyak Profesor Fisika yang mengeluh tentang penguasaan fisika mahasiswa yang sedang belajar di universitas.
Di dalam negeri para peneliti dan praktisi pendidikan fisika menyebut bermacam-macam alasan. Alkarhami (1999:1) misalnya menyebut kondisi buku pelajaran dan pola pembinaan/calon guru yang ada sekarang ini menjadi salah satu penyebabnya.
Guru fisika merupakan tumpuan harapan dalam upaya memperbaiki keadaan seperti dilansir di atas. Tetapi guru fisika tidak akan dapat berbuat banyak dalam meningkatkan hasil pembelajaran fisika jika mereka tidak menguasai materi dengan benar, benar dalam arti sesuai dengan yang dikonsepsikan oleh fisikawan. Bahkan, jika mereka tidak menguasai materi dengan benar, bukan perbaikan hasil pembelajaran yang didapatkan, tetapi mereka menjadi penyebar miskonsepsi yang sangat cepat bagi siswa-siswanya. Keadaan seperti ini tidak dapat dibiarkan ada dan berlangsung terus menerus, untuk itu widyaiswara sebagai gurunya guru harus memiliki upaya dan tindakan nyata untuk memperbaiki keadaan. Inilah latar belakang dilakukannya riset ini. Riset ini diberi judul Analisis Persepsi Guru Mata Pelajaran Fisika Madrasah Aliyah Terhadap Konsep Gaya Pada Benda Diam dan Bergerak.
2. Identifikasi Masalah
Pembelajaran materi pendalaman fisika pada saat diklat guru mata pelajaran fisika di Balai-Balai Diklat Departemen agama seringkali dilaksanakan hanya mengacu kepada kurikulum dan silabus (Kursil) yang disiapkan Pusdiklat Teknis Departemen Agama, tanpa mempertimbangkan tingkat kemampuan menguasai materi atau kompetensi awal (prakonsepsi) peserta diklat. Apakah cukup efektif mengajarkan seluruh materi pendalaman fisika yang tercantum dalam Kursil tersebut dalam jangka waktu kurang dari 30 jam pelajaran, padahal ruang lingkup materi yang terdapat pada Kursil meliputi seluruh bidang mata pelajaran fisika, mulai dari mekanika, listrik-magnet, fisika modern, gelombang dan bunyi, termodinamika, dan optika.
Biasanya esensial dipandang dari sudut materi fisika itu sendiri. Persoalannya sekarang adalah, cukup bijaksanakah kita jika esensial ditinjau dari sudut materi itu sendiri. Mengapa esensial dari sudut pebelajar diabaikan? Padahal konteksnya adalah proses belajar mengajar (pembelajaran). Tidakkah lebih baik materi pembelajaran tersebut dipilih berdasarkan “kebutuhan” (untuk tidak mengatakan kelemahan penguasaan materi dan tingkat kemampuan awal) peserta diklat, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan sesuai saran konstruktivisme. Bagaimana hasil diklat yang diperoleh jika pembelajaran itu didasarkan pada kasus-kasus “kebutuhan” peserta diklat. Istilah “kebutuhan” dipilih untuk lebih menghargai pebelajar.
3. Rumusan Masalah
Masalah yang menjadi perhatian dalam riset ini adalah bagaimana persepsi guru mata pelajaran fisika Madrasah Aliyah terhadap konsep gaya? Bagaimana hasil pembelajaran pendalaman fisika jika materinya dipilih sesuai “kebutuhan” peserta Diklat? Dan bagaimana sebaiknya strategi pembelajaran yang diterapkan widyaiswara pada sesi pendalaman materi fisika?
B. KAJIAN TEORITIS
1. Pembelajaran Konstruktivis
Suparno (2005:18) menulis “konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri….Pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat, tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman”. Bagi para konstruktivis, pengetahuan bukanlah tertentu dan deterministik, tetapi suatu proses menjadi tahu.
Menurut Yamin (2004:3) peran dan tugas pengajar konstruktivis adalah : guru banyak berinteraksi dengan siswa, tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama, guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, diperlukan keterlibatan dengan siswa, guru perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel. Lebih lanjut Yamin menulis bahwa hal-hal penting dikerjakan oleh seorang pengajar konstruktivis adalah : guru perlu mendengar secara bersungguh-sungguh interpretasi siswa terhadap data, guru perlu memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas, guru perlu tahu bahwa ‘tidak mengerti’ adalah langkah yang penting untuk memulai menekuni.
Para konstruktivis menjelaskan bahwa satu-satunya alat/sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungan dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan merasakannya.
Dengan demikian ‘tidak mengerti’ bukanlah hambatan dalam pembelajaran, tetapi dapat dipandang sebagai awal yang bagus untuk memulai pembelajaran, inilah yang diterapkan dalam perlakuan dalam penelitian ini. Dengan memilih metode tanya-jawab dan brainstorming widyaiswara dapat mendengar secara bersungguh-sunguh interpretasi peserta didik tentang suatu konsep. Dengan menggunakan media laptop dan in focus untuk menayangkan materi dan metode ceramah indera pendengaran dan penglihatan peserta didik menjadi berperan.Seyogianya metode pembelajaran yang diterapkan dalam perlakuan (treatment) juga menggunakan demonstrasi, tetapi dalam kesempatan ini tidak digunakan, karena metode demonstrasi telah banyak digunakan dalam usaha mengelimir masalah-masalah miskonsepsi dalam fisika, antara lain dapat dilihat pada laporan van den Berg (1991).
2. Penyebab Miskonsepsi
Suparno (2005) memberi ringkasan berkenaan dengan faktor penyebab miskonsepsi fisika, ringkasan tersebut dimuat dalam tabel 2.1
.
Tabel 2.1 Penyebab Miskonsepsi
|
Sebab Utama |
Sebab Khusus |
| Siswa | Prakonsepsi, pemikiran asosiatif, pemikiran humanistik, reasoning yang tidak lengkap, intuisi yang salah, tahap perkembangan kognitif siswa, kemampuan siswa, minat belajar siswa |
| Pengajar | Tidak menguasai bahan, bukan lulusan dari bidang ilmu fisika, tidak membiarkan siswa mengungkapkan gagasan/ide, relasi guru-siswa tidak baik |
| Buku Teks | Penjelasan keliru, salah tulis terutama dalam rumus, tingkat penulisan buku terlalu tinggi bagi siswa, tidak tahu membaca buk teks, buku fiksi dan kartun sains sering salah konsep karena alasan menariknya yang perlu, |
| Konteks | Pengalaman siswa, bahasa sehari-hari berbeda, teman diskusi yang salah, keyakinan dan agama, penjelasan orang tua/orang lain yang keliru, konteks hidup siswa (tv, radio, film yang keliru, perasaan senang tidak senang, bebas atau tertekan. |
| Cara mengajar | Hanya berisi ceramah dan menulis, langsung ke dalam bentuk matematika, tidak mengungkapkan miskonsepsi, tidak mengoreksi PR, model analogi yang diapakai kurang tepat, model demonstrasi sempit,dll |
Selain penyebab yang diuraikan pada tabel 2.1, Masril dan Nur Asma (2002) masih menyebutkan satu penyebab lagi, yaitu kurangnya pengetahuan dari siswa atau peserta didik.
C. HASIL PENELITIAN
1. Analisis Terhadap Soal Menggambar
Untuk mengetahui persepsi guru mata pelajaran fisika terhadap konsep gaya dalam penelitian ini digunakan enam butir tes. Tiga item dari enam butir soal itu berbentuk pilihan berganda terbuka dan menuntut argumentasi, dan tiga item lagi berbentuk suruhan menggambar gaya.
Tes diagnostik dibagikan kepada responden dengan penjelasan lisan mengenai tatacara pengisiannya, juga saran untuk tidak bekerjasama dalam pengisiannya. Dijelaskan juga bahwa hasil tes tersebut tidak mempengaruhi kelulusan mereka pada Diklat yang diikuti. Selama peserta menjawab pertanyaan peneliti berada di dalam ruangan untuk menjamin tidak terjadinya kerjasama dalam pengisiannya. Waktu yang diberikan kepada peserta 15 menit.
Setelah kertas jawaban terkumpul, dikoreksi butir per butir, dan hasilnya dipublikasikan langsung kepada peserta. Kemudian dianalisis letak kesalahan yang dilakukan guru. Bagian ini menjadi dasar bagi pemilihan materi yang akan dibahas.
Selain dimaksudkan untuk mengungkapkan gambaran persepsi yang dimiliki oleh guru dalam masalah gaya, penelitian ini berbentuk analitis dimaksudkan juga untuk lebih fokus kepada tujuan melakukan diagnosis dan memberikan perhatian yang lebih luas kepada jawaban-jawaban yang menyimpang ketimbang jawaban yang benar.
Butir soal nomor satu berbentuk suruhan menggambar gaya pada benda diam di atas meja dan di atas lantai. Dari lembar jawaban yang terkumpul hanya 40% yang dapat memberikan jawaban benar, selebihnya 60% memiliki konsepsi yang bermasalah. Masalah-masalah yang ditemukan pada jawaban butir soal nomor satu adalah :
a. Pada saat benda di atas meja responden masih menggambar gaya dengan benar yaitu ada gaya berat (w) dan gaya normal (N), tetapi pada saat benda berada di atas lantai, gaya berat yang sebelumnya dilukis ketika benda di atas meja tidak lagi digambarkan (7 orang)
b. Ada yang menggambarkan gaya (F) horizontal dan gaya gesek (fs) selain gaya berat (w) dan gaya normal (N), padahal dalam soal dijelaskan bahwa benda disebutkan dalam keadaan diam.
c. Gaya gesek (fs) yang digambarkan responden ada yang berasal dari pusat massa benda.
d. Gaya berat (W) tidak digambar dari titik pusat massa benda, dan gaya normal (N) tidak digambar berasal dari permukaan meja atau lantai tempat benda diletakkan
e. Ada responden yang hanya menggambar gaya berat saja (w)
f. Ada responden yang melukis gaya di luar sistem yang ditinjau.
g. Ada yang menggambar gaya gesek (fs) pada benda yang berada di lantai, sedangkan pada saat benda di atas meja gaya gesek tersebut tidak digambarkan.
h. Ada responden yang menggambarkan gaya normal (N) sejajar dengan lantai, tidak tegak lurus bidang permukaan tempat benda berada.
i. Ada responden yang menggambar gaya gesek berasal dari titik pusat massa benda.
j. Ada responden yang menggambar gaya normal (N) dan gaya berat (w) satu arah, sama-sama menuju pusat bumi, pada hal seharusnya N tegak lurus bidang meja atau tanah tempat benda.
Setelah diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan materi yang fokus terhadap persepsi-persepsi yang salah dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, brainstorming dan visualisasi gaya menggunaakan powerpoint, persentase jawaban yang benar 85%, 15% lagi tetap memiliki kesalahan-kesalahan yang sama seperti yang telah diuraikan di atas.
Pada butir soal nomor lima berupa suruhan melukis gambar gaya-gaya yang bekerja pada benda bergerak yang diakibatkan oleh pemberian gaya tarik melalui sebuah tali. Setelah dianalisis diperoleh hasil sebagai berikut.
Hanya 37% responden yang dapat melukiskan gaya-gaya dengan benar. Jawaban dianggap benar jika titik tangkap, arah dan jumlah gaya yang bekerja benar. Selebihnya 63% memiliki masalah-masalah sebagai berikut.
a. Hanya menuliskan tiga buah gaya yang bekerja, gaya gesek kinetis tidak dilukis (10%)
b. Tidak dapat melukiskan gaya-gaya yang bekerja(26,7%)
c. Melukiskan gaya gesek dengan titik tangkap berada di dalam benda, tidak berada diantara benda dan lantai (20%)
d. Hanya melukis dua buah gaya, yaitu gaya tarik dan gaya gesek (6%)
Analisis lebih lanjut terhadap responden bermasalah tersebut menggambarkan bahwa :
a. Gaya normal (N) dilukiskan berasal dari benda, tidak dari bidang permukaan tempat benda berada.
b. Gaya gesek kinetis dilukiskan bekerja pada dua arah. Arah pertama searah denga gaya tarik, arah kedua berlawanan dengan gaya tarik.
Pada butir soal nomor enam, berkenaan dengan suruhan menggambar gaya reaksi terhadap gaya-gaya yang telah mereka lukis pada soal nomor lima sebelumnya. Setelah jawaban responden dianalisis didapat hasil sebagai berikut :mereka yang benar dalam melukiskan gaya-gaya pada butir soal nomor lima, tetapi tidak ditemukan satu orang pun yang berhasil memberikan gambar gaya reaksi terhadap gaya-gaya yang mereka lukis pada butir soal nomor lima tersebut secara lengkap. Hasil analisis terhadap gambar-gambar yang mereka lukis ditemukan permasalahan sebagai berikut :
a. Gaya normal dianggap merupakan gaya reaksi terhadap gaya berat
b. Gaya gesek kinetis dianggap merupakan reaksi terhadap gaya tarik tali.
c. Lukisan gaya pada butir nomor lima tidak diuraikan pada saat melukiskan gaya aksi reaksinya pada butir soal nomor enam.
2. Analisis Terhadap Soal Memilih
Perbandingan hasil pretes dan postes untuk butir soal nomor dua (diberikan gambar seorang yang melemparkan bola vertikal ke atas, setelah bola lepas dari tangan tetapi belum mencapai tinggi maksimum, gaya apa yang bekerja pada bola?, soal nomor tiga (pada saat mencapai titik tertitnggi, sesaat sebelum menuju ke bawah gaya apa yang bekerja pada bola?)dan soal nomor empat (gaya apa yang dirasakan bola pada saat bergerak turun?) Soal berbentuk pilihan berganda terbuka dan menuntut alasan.
Tabel 4.4 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Butir soal Nomor Dua
Dar tabel 4.4 terlihat terdapat peningkatan perbaikan persepsi responden terhadap butir soal nomor dua. Hasil postes menggambarkan setelah perlakuan dalam diklat diberikan responden cenderung memberikan jawaban yang terkonsentrasi pada E dan G. Pada jawaban G diperoleh penjelasan-penjelasan yang tidak seragam mengenai nama gaya gravitasi, masih didapatkan istilah percepatan gravitasi dengan simbol w.
Tabel 4.5 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Responden Butir soal Nomor Tiga
Dari perbandingan tabel pre dan postes di atas dapat dilihat bahwa setelah diberikan perlakuan pada Diklat jawaban responden cenderung terkonsentrasi pada alternatif E dan G, meskipun tetap saja ada yang memilih alternatif jawaban D. Pada penjelasan responden yang memilih alternatif G ditemukan adanya argumentasi bahwa karena ketiadaan gayalah yang menyebabkan benda diam sejenak sebelum jatuh kembali
Tabel 4.6 Perbandingan Hasil Pretes dan Postes Responden Butir soal Nomor empat
Dari tabel 4.6 terlihat bahwa jawaban responden terkonsentrasi pada D, E, dan G. Bagi yang memilih D dibarengi dengan alasan bahwa pada kasus ini gesekan udara tidak diabaikan, sedang yang menjawab E dibarengi dengan alasan gesekan udara diabaikan. Pada penjelasan yang diberikan mereka yang menjawab G, ditemukan alasan bahwa karena benda jatuh bebaslah yang menyebabkan benda ini jatuh kembali.
Jawaban butir soal nomor lima setelah postes tampak ada perbaikan. Jika pada saat pretes hanya 37% orang yang dapat melukiskan gaya-gaya dengan benar, hasil postes menunjukkan ada 77% yang berhasil menggambarkan gaya-gaya dengan benar. Selain itu tidak lagi ditemukan jawababan yang hanya satu gaya. Tetapi masalah titik tangkap gaya tampaknya belum tuntas.
E. PEMBAHASAN
1. Aspek Materi
Jika kita perhatikan kecenderungan pilihan-pilihan responden, kelihatan bahwa cukup besar jumlah mereka yang mempersepsikan bahwa:
a. Gaya dorong tangan sewaktu akan melemparkan bola ke atas masih tetap tinggal di dalam bola walaupun bola itu lepas dari tangan pelempar.
b. Tidak ada gaya yang bekerja pada bola pada saat bola tersebut berada pada titik tertinggi
c. Gaya normal dan gaya berat adalah pasangan aksi reaksi
d. Gaya tarik dan gaya gesek adalah pasangan aksi reaksi.
e. Gaya gravitasi dipertukarkan dengan istilah percepatan gravitasi
f. Perbedaan penerapan hukum pertama Newton dan hukum ketiga Newton tidak jelas.
Gejala ini penting untuk diperhatikan widyaiswara ketika melakukan pembelajaran di kelas.
Tampaknya anggapan bahwa di dalam suatu benda yang bergerak ada gaya yang menggerakkannya, merupakan suatu miskonsepsi yang sulit dihilangkan. Secara fisis kita dapat menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi waktu kita mulai melemparkan bola Selama bola masih berada di genggaman tangan, bola merasakan gaya dorongan dari tangan. Akibatnya bola dipercepat sampai mencapai kecepatan yang akan merupakan kecepatan awal pada saat bola itu lepas dari tangan.
Setelah bola itu lepas dari tangan, bola sudah tidak merasakan lagi gaya dorong dari tangan. Bola akan bergerak ke atas dengan kecepatan awal yang diperolehnya dari dorongan tangan sebelumnya. Yang tinggal adalah pengaruh gravitasi dan mungkin ada gesekan udara. Pengaruh gravitasi dan gesekan udara bekerja berlawanan dengan arah kecepatan bola. Karena adanya proses perlambatan yang terus menerus oleh gravitasi dan gesekan udara, maka suatu saat bola akan berhenti (v=0), dan mulai bergerak turun kembali karena dpercepat oleh gravitasi.
Hukum Newton III ternyata banyak disalah persepsikan oleh guru fisika. Halliday dan Resnick (1998:113) menulis tentang hukum ini sebagai berikut:
Gaya yang bekerja pada suatu benda berasal dari benda-benda lain yang membentuk lingkungannya. Suatu gaya tungal hanya salah satu bagian dari interaksi timbal balik anta dua benda. Secara eksprimen diketahui bahwa jika sebuah benda melakukan gaya terhadap benda kedua, maka benda kedua selalu membalas melakukan gaya pada benda pertama. Selanjutnya diketahui pula bahwa kedua gaya ini sama besar, tetapi arahnya berlawanan. Karena itu tidak mungkin memperleh sebuah gaya tunggal terisolasi.
Jika salah satu di antara dua gaya yang muncul dalam interaksi dua benda disebut gaya ‘aksi’, maka yang lain disebut gaya ‘reaksi’. Disini tidak termaktub pengertian sebab dan akibat, yang ada hanyalah interaksi timbal-balik secara serempak.
Hukum pertama dan ketiga sering dicampur-adukkan oleh kebanyakan pembelajar dan ternyata juga oleh guru. Contoh jawaban yang salah dalam penyelesaian soal nomor enam adalah : Ftali = Fgesekan , N = Gravitasi. Jawaban ini salah bukan karena pernyataanya tidak benar, tetapi karena pernyatan ini benar hanya untuk hukum I Newton, bukan untuk hukum ketiga
Gambar 4.1 Jawaban Butir Soal Nomor EnamKeterangan gambar 4.1 :
Ftali1 dan Ftali2 ( lihat gambar D di atas) mencerminkan interaksi antara tali dan benda (kedua gaya sama dan arahnya berlawanan).
Fgravitasi1 (=G) dan Fgravitasi2 (lihat gambar B di atas) mencerminkan interaksi antara bumi dan benda melalui gravitasi.
fgesek1 dan fgesek2 (lihat gambar A di atas) mencerminkan interaksi antara benda dan lantai melalui gesekan.
N dan w (lihat gambar C di atas) mencerminkan interaksi antara benda dan lantai
Semua pasangan-pasangan gaya itu sama besar dan berlawanan arah. Apa perbedaan Fgrafitasi (G) dengan w dalam gambar ini ? Jawabnya adalah bahwa besar keduanya sama, yaitu Fgrafitasi (G) =N dengan arah berlawanan karena hukum I Newton. Benda tidak bergerak dengan arah vertikal sehingga resultan gaya di arah vertikal sama dengan nol.
N juga sama dengan w, sehingga Fgrafitasi (G)= w, Jadi memang besar dan arah kedua gaya sama tetapi arti berbeda. Fgrafitasi (G) berasal dari interaksi antara bumi dan benda, sedangkan w antara benda dan lantai.
2. Aspek Pembelajaran
Dari segi pembelajaran, jika seorang widyaiswara melaksanakan tugas mengajarnya dengan menghabiskan seluruh materi dari a sampai z seperti yang tertuang dalam Kursil tanpa memperhatikan tingkat kemampuan awal (prakosepsi) peserta diklat, maka tindakan tersebut sama artinya dengan memandang peserta didik seperti botol kosong yang siap menampung pengetahuan sampai tumpah, tanpa hambatan.
Anggapan seperti itu tidak sejalan dengan pandangan teori konstruktivisme yang mengangap bahwa peserta didik sebelum memasuki ruang-ruang belajar sesungguhnya sudah memiliki pengetahuan awal. Tugas pengajar (widyaiswara) yang pertama adalah menggali pengetahuan-pengetahuan awal tersebut, memeriksa bagian mana yang sudah benar dan bagian mana yang masih memerlukan perbaikan.
Jika ada bagian yang benar, peserta didik hanya memerlukan perluasan dan pendalaman, sedang pada bagian yang kurang benar, baik akibat miskonsepsi maupun kekurangan pengetahuan, pengajar tinggal memperbaiki dengan cara-cara yang dianggap paling efektif. Misalnya dengan mengkondisikan konflik kognitif, bridging analogy , demostrasi atau dengan pembuktian secara eksprimen.
F. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Guru mata pelajaran fisika Madrasah Aliyah yang dijadikan obyek penelitian dalam riset ini 60% memiliki konsepsi gaya yang kurang sesuai dengan konsepsi fisikawan. Konsep-konsep gaya yang dipandang “rawan” dan harus menjadi fokus perhatian dalam pembelajaran gaya oleh widyaiswara pengampu materi pendalaman fisika adalah dalam masalah : melukis titik tangkap gaya, membedakan gaya dengan momentum, membedakan lukisan gaya pada benda diam dan bergerak, melukis gaya aksi-reaksi pada hukum III Newton
Perlakuan yang diberikan pada saat pembelajaran yaitu melakukan pembelajaran dengan materi yang dibutuhkan peserta yang diperoleh dari pretes (menggunakan tes diagnostik) di awal pembelajaran dapat membuat peserta diklat lebih aktif karena berhubungan langsung dengan masalah yang mereka miliki, dan dapat memperbaiki persepsi mereka terutama dalam hal melukis gaya pada benda diam dan kasus bola yang dilemparkan ke atas, tetapi tidak berhasil memberikan kontribusi yang memuaskan pada kasus melukis gaya pasangan aksi-reaksi pada hukum III Newton. Gain rata-rata pretes dan postes yang diperoleh adalah 2,0.
Melukis gaya dalam persoalan mekanika ternyata merupakan persoalan yang tidak dapat dipandang mudah dan sudah tidak perlu mendapat perhatian, kenyataanya melukis gaya harus mendapat perhatian yang lebih serius dari para pengajar.
2. Saran-Saran
Ada baiknya jika pembelajaran pendalaman materi fisika yang ada pada diklat Guru Mata Pelajaran Fisika Madrasah Aliyah tidak dilakukan dengan motivasi menghabiskan seluruh materi ajar yang tercantum dalam Kursil yang ada tanpa mempertimbangkan konsep mana yang sudah dan belum, konsep mana yang sudah benar dan masih perlu perbaikan.
Widyaiswara dan penyelenggara diklat hendaknya melaksanakan pretes di awal setiap pembelajaran mata pelajaran inti, tidak hanya memadakan pretes yang hanya sekali di awal diklat, sebab dampak psikologis yang ditimbulkan berbeda bagi peserta diklat. Pretes di awal tiap mata pelajaran inti dapat menjadi pemicu bagi peserta diklat untuk terlibat lebih akatif dalam pembelajaran berikutnya karena masih jelas dalam ingatan mereka bahwa pembelajaran tersebut berkaitan dengan masalah mereka sendiri dan tidak menganggap tidak penting.
Naskah pretes yang diberikan kepada peserta hendaknya tidak hanya dimaksudkan untuk mengukur kemampuan awal tetapi juga berbentuk tes diagnostik yang dapat menunjukkan tempat-tempat kesalahan berpikir dan salah konsep peserta diklat, sehingga lebih fokus dalam pembelajaran yang diperlukan peserta diklat.
DAFTAR PUSTAKA
Alhami, Suud Karim. 1999. Implementasi Kurikulum Fisika Bernuansa Afektif-Nilai. Makalah disajikan pada seminar dan lokakarya Paradigma Pendidikan Sain Fisika Berbasis Nilai, diselengarakan FPMIPA IKIP Bandung, 10 April 1999 di Aula Perpustakaan IKIP Bandung
Berg, Euwe van den (ed).1991. Miskonsepsi Fisika dan Remediasi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Press.
Bungin, Burhan,M. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana
Hallyday, David & Resnick, Robert. 1998. Fisika Jilid 1 (edisi 3), Terjemahan: Pantur Silaban dan Erwin Sucipto. Jakarta: Erlangga
Masril dan Nur Asma. 2002. “Pengungkapan Miskonsepsi Siswa Force Concept Inventory dan Certainity of Response Inde”x. Jurnal Fisika Himpunan Fisika Indonesia. 2002. Vol.B5). Hlm:1-3. Available at: http:\\hfi.fisika.net
Novak&Gowin.1984. Learning How to Learn. Cambridge: University Press
Riduan. 2004. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan Dan Peneliti Pemula. Bandung : Alfabeta
Suparno, Paul. 2004. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Jakarta: Kanisius
——————-. 2005. Miskonsepsi & Perubahan Konsep Pendidikan Fisika. Jakarta: PT.Grasindo.
Yamin, Martinis. 2004. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada.
Penulis adalah Widayaiswara Madya BDK Medan, Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia,Bandung, Konsentrasi Pendidikan Fisika.081370631249.
If you want edit me? Go to your profile than add description text. ^_*